Finansialku Podcast Eps 47 – Pengalaman Bekerja Di Luar Negeri (Japan)!

Bekerja di Jepang Bekerja di Luar Negeri Finansialku finansialku podcast fintalk podcast Jepang Karier PodcastLeave a Comment on Finansialku Podcast Eps 47 – Pengalaman Bekerja Di Luar Negeri (Japan)!

Finansialku Podcast Eps 47 – Pengalaman Bekerja Di Luar Negeri (Japan)!

Gaji yang besar menjadi tujuan banyak orang bekerja di luar negeri. Lantas, bagaimana serba serbi bekerja di luar negeri?

Kali ini Finansialku akan memberikan gambarannya untuk Anda.

 

Rubrik Finansialku

 

Bekerja di Luar Negeri

Siapa nih yang ingin pergi bekerja ke luar negeri? Bekerja di luar negeri mungkin menjadi impian bagi banyak orang. Selain karena bisa mengenal dunia luar, penghasilan yang ditawarkan pun tinggi.

Hari ini kita akan membahas mengenai bekerja di luar negeri dengan salah satu crew Finansialku yang pernah bekerja di negeri Sakura, Jepang. Yuk dengarkan podcastnya!



 

But anyway, sebelum masuk ke pembahasan inti, Sobat Finansialku dapat mengirimkan pertanyaan atau curhat keuangan melalui fitur KONSULTASI KEUANGAN di Aplikasi Finansialku. Jangan lupa kasih hashtag #CURHATKEUANGAN

 

Berikut curhatan dari salah satu sobat Finansialku dari Jakarta.

Ko Melvin, saya N. Saya sudah mengikuti podcast dari bulan April 2019 dan saya merasa kok berantakan banget ya, karena sudah 5 tahun bekerja dan hampir berkeluarga tapi keuangan berantakan.

Saya orangnya pelit banget. Bertahun-tahun ngumpulin 50 juta rupiah untuk nonton konser dan merchandise Kpop. Saya juga gatau kenapa bisa ngefans banget sama Kpop.

Saya mulai bertobat dan sadar akhir tahun lalu. Saya dengar podcast Ko Melvin dan baca buku Make A Plan. Bukunya cocok banget buat saya yang gak doyan baca.

“Apakah saya masih punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi saya, membeli apartemen, berkeluarga, dll?”

 

Jawaban Melvin Mumpuni:

Seperti quote-nya Shifu Oogway dalam Kungfu Panda, “Yesterday is history…” It’s okay! Apapun yang jadi penyesalan di masa lalu, it’s okay. Berdamailah dengan diri sendiri dan move on.

So karena kita hidup di hari ini, maka kita perlu bersyukur dan sibukkan diri dengan hal-hal yang sifatnya produktif. Setidaknya dengan mempelajari tentang keuangan, mulai nabung pemasukan, dan investasi.

Namun saya agak kurang setuju di quote bagian “… Future is mistery“. Menurut saya apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan kita. Kalau kita tidak mengambil tindakan apa-apa, our future becomes misery, bukan mistery.

Tapi kalau kita mulai bergerak dari sekarang, mulai mengatur keuangan, menata keuangannya, maka itu akan jadi mistery. Kenapa mistery?

Karena bisa jadi dalam proses dari saat ini (present) menuju masa depan (future) terjadi proses-proses pendewasaan, proses pembelajaran, sehingga kita jadi lebih maju dalam berpikir, bertindak, dan sebagainya.

Seperti N, yang sekarang mulai berpikir bagaimana mengatur keuangannya. Bukan tidak mungkin dia bisa beli penthouse.

jadi kesimpulannya:

Yesterday is history

Today is a gift, so it called presence

Tomorrow is mistery, if you plan and prepare it, if you don’t, then it will be misery

 

Jepang, Tujuan Kerja Impian

Bekerja di luar negeri adalah pengalaman yang begitu berharga. Di sana, seseorang bisa mempelajari cara hidup masyarakat yang kontras dengan kebudayaannya sendiri.

Bekerja di luar negeri juga sedikit banyak akan membuka wawasan bahwa sesungguhnya dunia tidak sesederhana yang dilihat. Dengan begitu, seseorang bisa menalar masalah dengan lebih banyak sudut pandang.

Jepang adalah salah satu tujuan kerja favorit bagi calon Tenaga Kerja Indonesia. Iming-iming gaji besar dan job desk yang jelas menjadi alasan utama kenapa negara berjuluk Negeri Sakura ini menjadi primadona.

Jepang bersinar karena banyaknya perusahaan prestisius di dalamnya. Sebut saya Aqua Japan, Honda, Yamaha, dan sebagainya.

 

Budaya Kerja di Jepang

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman Hikary, salah satu crew Operational and Partnership Finansialku, selama bekerja di Jepang.

Hikary memulai karier di Jepang setelah mendaftarkan diri di program yang dikeluarkan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang. Pemerintah Jepang dan pihak swasta dalam negeri mencari talent-talent baru untuk belajar Japanesse Business Culture.

Sejak 2016, pemerintah Jepang memang gencar mempromosikan program itu ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Tujuannya, mereka ingin melakukan riset produk, agar barang atau jasa yang dihasilkan bisa diterima masyarakat di suatu negara.

Misal, mereka ingin mengeluarkan es krim dengan rasa baru untuk Indonesia. Dengan bertanya langsung kepada orang Indonesia, mereka akan tahu bagaimana selera pasar di sini.

Jepang dikenal dengan budaya kerja yang sangat disiplin. Hal itu karena masyarakat Jepang memang sangat detail dalam segala hal.

Hikary menyebutkan, bahkan dia harus belajar tata cara menempatkan diri di dalam lift, di kendaraan, bahkan cara duduk. Sementara, di Indonesia justru hal-hal seperti sangat kondisional.

Business culture Jepang juga cenderung kaku—dan memang seperti itulah seharusnya. Artinya jika kantor dimulai pukul tujuh, kamu harus datang jauh sebelum waktu yang ditetapkan.

 

Tantangan Bekerja di Jepang

Dalam hal kedisiplinan, Jepang jelas berada jauh di atas Indonesia. Hikary juga menyebut bahwa kebiasaan di sana kontras dengan masyarakat kita.

Berikut beberapa hal yang dilalui Hikary selama bekerja di Jepang:

 

#1 Harga Makanan yang Relatif Mahal

Berapa harga seporsi makan siang di Indonesia? Jika kamu menyebut Rp10.000 atau Rp15.000 sudah cukup mahal, maka harga Rp50.000 untuk sekali santap di Jepang akan membuat geleng-geleng kepala.

Jika ingin yang lebih murah, kamu perlu effort untuk membuat makanan sendiri atau membeli nasi kepal jepang.

 

#2 Workholic

Sudah bukan rahasia lagi kalau warga Jepang memang gila bekerja. Orang Indonesia yang bekerja di sana mau tidak mau mengikuti ritme penduduknya. Mereka bisa menghabiskan waktu seharian untuk mengulik pekerjaan di depan desktop.

Warga Jepang juga memiliki rasa tanggung jawab tinggi. Misal, jika seorang pekerja bangunan memasang batu bata, mereka akan meletakkannya dengan teratur dan berusaha sebaik mungkin.

Hal itu karena, nantinya bangunan yang mereka buat akan ditempati banyak orang. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, mereka akan sangat malu.

 

#3 Harus Mengerti Bahasa Jepang

Jika bekerja di sana, kamu memang tidak harus lancar berbahasa Jepang. Minimal kamu mengetahui berbagai ungkapan dasar yang biasa diucapkan.

Pekerja di Jepang biasanya akan mengikuti kelas Bahasa Jepang agar komunikasi berjalan lebih lancar

 

Tips untuk Kamu yang Ingin Bekerja di Jepang

Berikut ini beberapa tips yang bisa kamu ikuti jika ingin bekerja di Jepang:

  1. Lakukan riset budaya. Dengan begitu kamu bisa lebih mudah atau beradaptasi dengan penduduk lokal.
  2. Tunjukkan kualitasmu saat interview. Caranya, jika mereka menanyakan pengalaman kerja, jawablah dengan yakin disertai dengan cerita menarik selama menjalaninya. Mereka sangat menghargai itu.
  3. Membaurlah dengan budaya kerja setempat. Umumnya, pekerja di Jepang menggunakan setelan jas atau blazer untuk bekerja.
  4. Jangan malu menanyakan pekerjaan kepada rekan.
  5. Jika seseorang mengajak nomikai—berkumpul sambil minum—sementara kepercayaanmu tidak menoleransi itu, tolaklah dengan halus. Sebab, warga Jepang sangat menghormati kepercayaan orang lain.

 

Bekerja dengan Penuh Tanggung Jawab

Di mana pun tempatnya, setiap orang harus menyadari kewajiban atau job desk yang dimiliki. Jika kamu seorang karyawan, maka selesaikan tugasmu tepat waktu. Atau, jika ada sisa waktu, gunakanlah untuk mengecek ulang.

Pada dasarnya, budaya kerja yang baik akan melahirkan produk dan suasana kerja yang baik pula. Intinya, selalu berikan yang terbaik atas kepercayaan yang kamu terima.

 

Semoga bahasan kali ini dapat memberikan manfaat bagi Sobat Finansialku, dan akhir kata Make A Plan and Get Your Financial Dreams Come True!

 

Finansialku Talk Podcast juga dapat kamu dengarkan di:

Logo Spotify

 

dilema besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top