Mengenal Exchange Traded Fund (ETF), Kelebihan dan Cara Pilihnya

Exchange Trade Fund Investasi OMC OMC0721 Reksa DanaLeave a Comment on Mengenal Exchange Traded Fund (ETF), Kelebihan dan Cara Pilihnya

Mengenal Exchange Traded Fund (ETF), Kelebihan dan Cara Pilihnya

Mengenal lebih jauh pengertian dari Exchange Traded Fund (ETF) mulai dari perkembangan, cara transaksi, hingga cara memilih produk ETF yang tepat.

Yuk baca ulasan selengkapnya mengenai Exchange Traded Fund (ETF) dalam artikel Finansialku berikut ini.

 

Mengenal Exchange Trade Fund (ETF) 

Perkembangan Investasi khususnya di pasar modal indonesia setiap tahunnya semakin meningkat pesat khususnya produk investasi reksa dana. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sudah terdapat 4,17 juta Investor Reksa Dana per akhir maret 2021. Padahal pada akhir 2020 jumlahnya masih 3.18 juta Investor dengan pertumbuhan investor reksa Dana pada kuartal pertama 2021 mencapai 31.13%. 

Secara umum masyarakat indonesia mengenal produk Reksa Dana seperti reksa dana pasar uang atau reksa dana saham, namun sekarang banyak sekali varian produk dari jenis reksa dana. Salah satunya adalah Exchange Traded Fund (ETF). Apa sebenarnya produk ETF ini dan bagaimana karakter serta keunggulannya maka menarik untuk kita bahas.

Definisi Exchange Traded Fund (ETF) reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di Bursa Efek Indonesia. 

 

ETF merupakan penggabungan antara unsur reksa dana dalam pengelolaan dana (pengelolaan diversifikasi portofolio) dengan mekanisme saham dalam hal transaksi jual maupun beli.

 

Perkembangan Reksadana Exchange Traded Fund (ETF)

Perkembangan ETF berdasarkan sejarah di Amerika Serikat dimulai sejak tahun 1993 dan sekarang menjadi salah satu produk investasi favorit di Amerika. Produk ETF secara global berlatar belakang dari relatif banyaknya produk di reksadana yang kinerjanya kalah dari pasar (benchmark misalnya dengan indeks Dow jones, Nasdaq), sehingga diciptakan produk reksa dana yang dikelola secara pasif (bobot saham yang dibeli disamakan dengan bobot indeks yang menjadi acuannya) tetapi kinerjanya sama dengan pasar. 

Sedangkan ETF di Indonesia sendiri ada pada tanggal 18 Desember 2007 yaitu Premier ETF LQ45 yang diluncurkan oleh Indopremier Asset Management. Produk ETF LQ45 tersebut underlying (aset dasarnya) adalah Indeks LQ45 (5 saham yang bluechip dan likuid).

Grafik dana kelolaan reksa dana ETF Sumber: Infovesta.com

 

Perkembangan dana kelolaan dari produk reksa dana ETF di Indonesia terus mengalami peningkatan berdasarkan grafik diatas. Per Akhir April 2021 berdasarkan data OJK, dana kelolaan produk reksa dana ETF sudah menjadi 14,9 triliun.

Jika dibandingkan dengan Dana Kelolaan Industri Reksa Dana yang sebesar Rp 543 Triliun, maka Porsi ETF ini hanya sebesar 2.7% saja sedangkan yang masih mendominasi adalah Reksa Dana Saham Rp 123 T (22,6%) , Reksa Dana Terproteksi Rp 131 T (24,1%) ,Reksa Dana Pendapatan Tetap Rp 129 T (23,7%) dan Reksa Dana Pasar Uang Rp 92.4 T (17%). Mayoritas Investor ETF adalah Institusi bukan investor ritel. 

 

Cara Transaksi ETF 

Perdagangan ETF sendiri dapat dilakukan melalui dua cara yaitu pada pasar premier (melalui dealer partisipan) dan pasar sekunder (melalui broker/sekuritas di Bursa Efek Indonesia). 

ETF tidak dapat dibeli dari Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). Pada Pasar Primer, pemodal bisa membeli dan menjual kembali reksadana ETFnya kepada Manajer Investasi (MI) dalam satuan unit kreasi. Satu unit kreasi setara dengan 100.000 Unit Penyertaan. Mekanisme tersebut berlaku untuk transaksi yang nomil besar. 

Misalnya NAB/UP ( Harga ETF) dimulai dari 1000 maka jumlah modal yang harus dibutuhkan adalah sebesar Rp 100 juta. Hal inilah yang mendasari mengapa ETF kurang diminati oleh investor ritel yang modalnya terbatas pada pasar premier. 

Untuk pasar sekunder, investor dapat membeli dan menjual ETF dalam satuan LOT. 1 lot setara dengan 100 unit penyertaan melalui Bursa Efek Indonesia. Transaksi ini dikhususkan kepada investor ritel yang nilainya relatif lebih kecil. 

Kode ETF di Platfom Trading Sekuritas adalah sama dengan kode saham pada umumnya yaitu empat huruf dengan dimulai dengan X. Misalnya XIJI (Reksadana Syariah ETF JII Indopremier) , ETF XPTD (Reksadana ETF Panin IDX30). 

 

Kelebihan dan Kekurangan Investasi di ETF

ETF kedepannya akan memiliki prospek yang bagus sekali seperti perkembangan pesat ETF di Amerika Serikat. Kurangnya sosialisasi dan pemahaman investor ritel terkait dengan produk ini menjadi penyebab mengapa porsi dana kelolaan ETF masih kecil dan hanya didominasi oleh investor institusi. Berikut ini adalah kelebihan berinvestasi di ETF :

 

#1 ETF Lebih Efisien 

Dengan membeli ETF maka kita membeli sekelompok saham dengan kualitas yang bagus dan likuid dengan modal yang kecil. Misalnya kita beli ETF XPTD maka kita seperti membeli seluruh saham yang ada di Indeks IDX30 tersebut dengan bobot 30 saham tersebut sama dengan bobot indeks IDX30. Contoh bobot saham BCA sebesar 30% dari IDX30.

 

#2 Mudah dan Flexsibel 

ETF dapat dibeli dan dijual kapanpun selama jam perdagangan seperti layaknya saham. 

 

#3. Rendah Biaya dan RIsiko 

Dalam transaksi pembelian atau penjualan ETF, manajemen fee dari Manajer Investasi relatif lebih rendah dari Reksa Dana. 

Adapun biaya ETF dipasar sekunder sesuai dengan komisi Broker. Secara risiko , ETF ini risikonya lebih rendah karena likuiditas terjamin karena investasi pada indeks yang aset dasarnya di indeks LQ45 atau IDX30.

 

#4. Transparan 

Komposisi ETF diumumkan setiap hari sehigga investor mengetahui dengan pasti saham-saham yang dimiliki oleh reksadana ETF ini. Bahkan NAB/UP atau harga ETF dipublikasikan oleh dealer partisipan beberapa kali dalam satu menit, sehingga Investor yang ingin transaksi baik membeli atau menjual unit penyertaan ETF akan mengetahui persis nilai saham yang ditransaksikannya. 

Bandingkan misalnya dengan reksadana saham yang biasa hanya dapat dibeli atau dijual unit penyertaannya satu kali sehari dengan cut off time pukul 13.00 dan sebenarnya pada saat transaksi (beli dan jual), investor tidak mengetahui harga detail dari unit penyertaannya dan komposisi saham pembentuk unit penyertaan tersebut. 

Walaupun banyak sekali keunggulan dari produk ETF ini, namun juga terdapat kekurangannya yaitu :  

 

Ada Biaya pajak Capital Gain

Pada waktu Investor menjual reksadana ETFnya di bursa efek, maka Investor harus membayar pajak kepada pemerintah. Besarnya pajak adalah final 0.1% dari nilai penjualan, dan tidak lagi melihat apakah investor mendapatkan keuntungan atau kerugian dari penjualan tersebut. Hal ini berbeda jika kita membeli reksa dana yang bukan objek pajak. 

 

Biaya Spread (selisih harga jual dan beli)

Selisih antara harga jual dan harga beli unit penyertaan. Berbeda dengan reksadana biasa yang selalu dibeli dan dijual kembali pada Nilai Aktiva Bersih (NAB), Investor ETF yang menjual unit penyertaannya harus menanggung biaya yang merupakan selisih antara harga jual dan harga beli. 

 

Bagaimana cara memilih ETF yang tepat

Perkembangan produk ETF di indonesia cukup pesat dan sekarang produk ETF di Bursa Efek Indonesia ada 48 produk. 

Jika dibandingkan dengan ETF di Bursa Negara Asia Tenggara maka ETF Indonesia adalah yang terbanyak. Singapura memiliki 30 produk ETF, Malaysia memiliki 19 ETF dan Thailand memiliki 12 produk ETF. 

Jika Memutuskan berinvestasi di Reksa Dana ETF maka yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: 

 

#1 Mempunyai Rencana Investasi yang jelas di ETF

Rencana investasi yang diperlukan adalah Tujuan Investasi , Jangka Waktu dan Toleransi Risiko kita. Dalam perencanaan keuangan yang perlu dilakukan adalah membuat tujuan keuangan dan jangka waktu investasi. Misalnya tujuan keuangan persiapan biaya pendidikan anak dengan jangka waktu adalah 10 tahun lagi. 

Aset Dasar produk ETF adalah saham. Oleh karena itu dengan tujuan keuangan jangka panjang diatas 10 tahun maka memilih ETF menjadi pilihan yang cocok karena tingkat pertumbuhan dimasa mendatang. 

Harga ETF akan mengalami fluktuasi naik atau turun yang akan menyebabkan kita sebagai investor mendapatkan potensi gain dan lost. Misalnya jika mengalami risiko penurunan harga -15% apakah psikologis kita terganggu dan tidak nyaman, berarti profil risiko kita adalah konservatif tidak cocok untuk karakter produk yang agresif di ETF. 

 

#2 Pahami Komposisi dan Strategi ETF

Bursa Efek Indonesia sekarang menyediakan berbagai macam indeks yang bisa menjadi acuan penyusunan Produk ETF yaitu:

  1. Investasi mengikuti IHSG
  2. Investasi sesuai Syariah
  3. Investasi peduli lingkungan dan sosial (ESG)
  4. Value Investing (saham dengan valuasi murah)
  5. Investasi pada saham dengan Deviden yang tinggi. Misalnya kita ingin berinvestasi dengan tujuan untuk mengikuti Indeks IHSG maka pilihannya adalah ETF LQ45 atau ETF IDX30. 

 

#3 Lakukan Dollar Cost Averaging (DCA)

Investasi dengan model nabung bulanan alias Dollar Cost Averaging (DCA) akan membuat kita nyaman baik secara pengelolaan keuangan (setiap bulan kita berinvestasi dari pendapatan kita) dan secara risiko akan kecil karena mendapatkan harga beli rata-rata serta akan membentuk kebiasaan yang positif dengan cara yang paling efisien di Bursa Efek Indonesia yaitu dengan membeli Reksa Dana ETF.

 

Setelah mengenal ETF mulai dari pengertiannya hingga cara memilih produk yang tepat. Anda dapat mulai mencoba mengaplikasikan informasi yang telah dipelajari untuk kemudian take action.

Jika Anda tertarik belajar lebih lengkap dari pakar investasi reksa dana, Sobat Finansialku dapat bergabung dengan grup premium investasi reksa dana. Gratis webinar setiap bulan dan update informasi terkini seputar investasi reksa dana.

Anda juga dapat berdiskusi langsung dengan pakar reksa dana dalam grup premium ini. Yuk gabung dengan 1000 orang lainnya, silakan klik tautan berikut ini ya Grup Premium Reksa Dana.

 

Jika Sobat Finansialku memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan tanyakan di kolom komentar. Jangan lupa untuk share ke saudara atau teman Anda, karena bisa jadi mereka membutuhkan informasi ini. Semoga artikel ini berguna untuk Anda.

 

Editor: Nurdevi Noviana

Sumber Gambar:

  • Cover – https://bit.ly/3hSFhgM

dilema besar

Leave a Reply

Back To Top